12 April 2022

30 July 2018

Gigi Berlubang Jangan Tampal atau Cabut.. Ini caranya

Dokter gigi (Drg) Stephanie Hadiyanto dari RS Elisabeth Semarang menyampaikan, berdasarkan pada teknologi rawatan gigi paling baru, gigi begitu baik disimpan seboleh mungkin hanya di dalam rongga mulut.

Maksudnya adalah untuk jauhi risiko dari mencabut gigi. Karena banyak yang sesudah gigi dicabut, ditinggalkan demikian saja, tak ditukar atau ditampal, ungkap Drg Stephanie.

10 Cara Merawat Gigi Berlubang agar Tidak Sakit Lagi

Perawatan gigi yang kurang baik akan menimbulkan banyak masalah, salah satunya adalah gigi yang berlubang. Gigi yang sudah berlubang biasanya akan menimbulkan rasa sakit yang sangat tidak nyaman di gigi, terutama ketika Anda sedang makan.

Gigi yang sudah berlubang membutuhkan perawatan ekstra. Perawatan ini dilakukan agar lubang tidak membesar dan rasa sakit tidak bertambah. Cara perawatan paling umum adalah dengan ditambal yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Cara Merawat Gigi yang Sudah Berlubang


Bagi Anda yang tidak ingin merawat dengan cara medis, ada beberapa bahan alami yang dapat mengobati gigi berlubang tanpa ditambal. Cara perawatan ini dapat mencegah rasa sakit dan mencegah lubangnya semakin besar. Nah, berikut ini adalah cara merawat gigi berlubang secara tepat:

1. Hindari Beberapa Jenis Makanan




Bila Anda memiliki lubang di gigi, maka Anda harus menghindari makanan panas dan dingin. Pasalnya, jenis makanan tersebut hanya akan menambah rasa ngilu di gigi. Selain itu, makanan manis, bersantan, dan asam juga harus dihindari agar tidak memperparah kondisi gigi berlubang.

2. Pilih Ubat Gigi Khusus




Ketika Anda mendapati bahwa gigi Anda berlubang, itu artinya Anda harus segera mengganti pasta gigi yang biasa Anda gunakan dengan pasta gigi khusus.

Pasta gigi yang ideal untuk merawat gigi berlubang harus mengandung xylitol dan kalsium. Kedua kandungan tersebut akan membantu proses perbaikan enamel gigi untuk menutup lubang atau kerusakan lainnya di area gigi.

3. Gunakan Berus Gigi Berbulu Lembut




Sama dengan cara merawat gigi sensitif, penderita gigi berlubang juga disarankan untuk menggunakan sikat gigi berbulu lembut. Sikat gigi dengan bulu yang kasar hanya akan menyebabkan rasa ngilu ketika bulunya menggosok lubang pada gigi.

4. Gosok Gigi 2 Kali Sehari



Lubang di gigi akan semakin bertambah parah jika Anda malas menggosok gigi. Meskipun terasa sakit dan nyeri, Anda tetap harus menggosok gigi dua kali sehari. Waktu yang tepat untuk menggosok gigi adalah pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

Pastikan juga Anda sudah menggunakan sikat gigi berbulu lembut dan pasta gigi khusus ketika menggosok gigi Anda yang berlubang. Gosoklah gigi Anda secara perlahan dan merata ke berbagai celah dan juga ujung gigi.

5. Konsumsi Makanan Kaya Kalsium dan Mineral




Tahukah Anda bahwa kalsium dan mineral adalah nutrisi penting untuk memelihara kesehatan gigi. Kalsium dan mineral berperan aktif untuk membuat gigi lebih kuat. Jika sedang sakit gigi, sebaiknya perbanyak konsumsi makanan yang berkalsium dan bermineral tinggi.

Makanan tersebut akan membantu proses untuk mengembalikan kekuatan gigi seperti sebelumnya. Contoh makanan kaya kalsium adalah telur dan susu, sedangkan makanan yang bermineral tinggi adalah buah-buahan dan sayuran.

6. Berkumur dengan Air Garam




Bakteri adalah penyebab utama timbulnya rasa nyeri pada gigi berlubang. Oleh karena itu, pertolongan pertama untuk mengatasi rasa nyeri akibat gigi berlubang adalah berkumur dengan campuran air hangat dan garam.

Air garam akan berperan sebagai anti-bakteri untuk membasmi bakteri penyebab gigi berlubang. Air garam ini akan meringankan rasa nyeri di area gigi berlubang.

Cara Merawat Gigi Berlubang yang Sakit


Selain mengetahui cara merawat gigi berlubang, Anda juga perlu mengetahui cara mengatasi gigi berlubang yang sudah sakit tanpa perlu ditambal. Nah, cara mengatasi sakit gigi berlubang ini akan menggunakan bahan-bahan alami, seperti:

1. Jeruk Nipis




Cara yang satu ini mungkin akan terasa sedikit perih. Akan tetapi, jeruk nipis sangat efektif untuk mengatasi gigi berlubang. Cara penggunaannya adalah peras air jeruk nipis. Kemudian, ambil satu sendok teh air perasan jeruk nipis, lalu teteskan pada bagian gigi yang sakit atau berlubang.

Lakukan cara ini setiap 10 menit sekali untuk meredakan rasa nyeri karena gigi berlubang. Kandungan vitamin C di dalam jeruk nipis dapat meredakan rasa sakit di gigi Anda sehingga Anda bisa menyantap makanan tanpa perlu khawatir sakit gigi ketika mengunyah.

2. Belimbing Buluh




Ini merupakan salah satu cara mengatasi sakit gigi karena berlubang secara tradisional. Anda hanya perlu menggunakan buah belimbing buluh. Buah ini berukuran kecil dan berwarna hijau. Pada umumnya, belimbing buluh dimanfaatkan sebagai bumbu masakan. Namun, buah ini juga dapat mengobati rasa sakit karena gigi berlubang.

Cara menggunakannya juga sangatlah mudah, cukup kunyah belimbing buluh secara perlahan menggunakan gigi yang berlubang. Agar hasilnya semakin maksimal, tambahkan sedikit garam untuk membunuh bakteri yang bersarang pada gigi.

3. Bawang Putih




Efektifitas bawang putih sebagai obat alami untuk berbagai macam penyakit memang tidak perlu diragukan lagi. Bawang putih diklaim dapat mengatasi gigi berlubang, terutama untuk meredakan rasa sakitnya.

Cara menggunakan bawang putih sebagai obat alami untuk gigi berlubang adalah tumbuk bawang putih hingga halus dan campurkan dengan sedikit garam. Oleskan pasta bawang putih ini di lubang gigi. Lakukan cara ini sampai rasa sakit di gigi Anda hilang.

4. Bawang Merah




Jenis bawang yang satu ini mengandung antiseptik dan antimikroba alami. Tak heran jika bawang merah kerap kali digunakan untuk meredakan sakit gigi oleh masyarakat pedesaan pada jaman dahulu kala.

Hanya dengan mengunyah bawang merah mentah selama beberapa menit, maka sakit gigi akan hilang seketika. Cara lain adalah dengan menggosokkan bagian dalam bawang merah ke gigi yang lubang.

5. Daun Jambu Biji




Anda hanya perlu mengunyah daun jambu biji untuk menyembuhkan sakit gigi. Untuk membasmi kuman penyebab gigi berlubang, rebus jambu biji dengan garam, lalu berkumurlah dengan air tersebut sebanyak 2 kali sehari.

Berbagai cara merawat gigi berlubang di atas hanya bersifat sementara. Anda tetap harus menambal gigi Anda ke dokter gigi jika ingin mengatasi gigi berlubang secara permanen. Sebagai pencegahan, Anda juga dapat mencoba cara membersihkan karang gigi secara alami sebelum gigi Anda menjadi berlubang, 










6.Teh hangat





Tahukah anda, teh hangat ternyata dapat membantu meredakan sakit gigi. Teh hangat ini mampu memberikan efek reda sementara terhadap sakit gigi.

Selain itu, teh hangat juga bermanfaat untuk menghilangkan bakteri dalam gigi.

Caranya mudah, siapkan satu kantong teh yang telah dicelupkan dalam teh hangat. Pastikan bahwa teh hangat tidak mengandung gula.

Jika sudah, tempelkan pada gusi, tunggu selama beberapa saat hingga sakitnya reda.

7. Cabe rawit


Mungkin anda heran, kenapa cabe rawit dapat menyembuhkan sakit gigi.

Ya, cabe rawit mengandung senyawa capcasain yang dapat meredakan rasa sakit, termasuk sakit gigi.

Untuk itu tidak ada salahnya apabila anda mencoba.

Caranya cukup mudah, larutkan cabe rawit ke dalam air panas kemudian siapkan kapas dan celupkan.

Peras sedikit lalu tempelkan di sela-sela gigi berlubang.

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan kepada anda mengenai obat tradisional sakit gigi keropos bengkak berlubang, semoga dapat menambah wawasan anda tentang kesehatan anggota tubuh.


Sumber: Kuasaheboh

Link: http://kuasaheboh.win/2018/01/yang-giginya-berlubang-rugi-bila-tidak-baca-artikel-ini-jangan-tampal-atau-cabut-ini-caranya-tolong-bantu-share-supaya-teman-teman-kita-tahu/

Hukum Faraid dan Wasiat

Hukum Faraid dan Wasiat


Apakah FARAID?


• Kaedah pembahagian harta pusaka yang ditentukan oleh Hukum Syarak untuk orang tertentu (waris yang layak).
• Bahagiannya telah disebut secara nyata dalam Surah an-Nisa ayat 11-12.
• Satu tatacara pembahagian yang telah di tetapkan sebagai satu jalan penyelesaian dalam pembahagian harta umat Islam(jalan terakhir).
• Mereka yang di sebut di dalam al-Quran di namakan sebagai golongan Ashabul Furud (waris al-Quran).


 













  Syarat mewarisi harta pusaka:

  • Kematian pewasiat (simati telah meninggal dunia)
  • Waris hidup pada masa kematian pewasiat.
  • Tiada perhubungan lain yang boleh menghalang kepada perwarisan.

Faktor penting melaksanakan Faraid:

  • Siapa mewarisi?
  • Berapa bahagian pewarisan?

Kadar Asas Pembahagian Harta Pusaka Melalui Faraid:

  • Suami – ½: Jika simati (isteri) tidak mempunyai anak (lelaki/perempuan) atau cucu dan ke bawah; ¼: Jika simati (isteri) mempunyai anak (lelaki/perempuan) atau cucu dan ke bawah
  • Isteri – ¼: Jika simati (suami) tidak mempunyai anak (lelaki/perempuan) atau cucu dan ke bawah; 1/8: Jika simati (suami) mempunyai anak (lelaki/perempuan) atau cucu dan ke bawah
  • Bapa – 1/6: Jika simati mempunyai anak (lelaki/perempuan) atau cucu dan ke bawah; 1/6 + asobah: Jika simati tidak mempunyai anak (lelaki/perempuan)
  • Ibu – 1/6: Jika simati mempunyai anak, @ cucu perempuan daripada anak lelaki ke bawah @ mempunyai beberapa orang saudara (lelaki/perempuan); 1/3 dari keseluruhan harta: Jika simati mempunyai seorang saudara lelaki atau perempuan sahaja dan tiada anak ke bawah; 1/3 dari baki harta: Jika simati meninggalkan salah seorang suami @ isteri dan bapa tanpa waris lain
  • Anak Perempuan – 1/2: Jika seorang; 2/3: Jika dua orang atau lebih dibahagi sama rata; Asabah bilghairi: jika si mati mempunyai anak (lelaki/pempuan) 2:1
  • Anak Lelaki – 100% daripada baki (Asabah) sekiranya seorang; Dikongsi sama rata daripada baki (Asabah) sekiranya lebih daripada seorang; Asabah bilghairi: jika si mati mempunyai anak (lelaki/pempuan) 2:1


Baitul Mal:

• Terjemahan secara bahasanya ialah Rumah Harta
• Suatu badan yang memegang dan menguruskan harta bagi orang-orang Islam setiap negeri
• Sumber pendapatan adalah daripada pungutan zakat, cukai, pewarisan harta dsb.
• Menjadi waris sekiranya tiada waris yang layak mendapat pusaka
• Menjadi waris kepada baki harta sekiranya masih ada baki dan tiada ada waris asabah (baki).
• Mendapat keseluruhan harta sekiranya tiada waris yang layak mendapat pusaka.

Peraturan Pembahagian Harta Pusaka:

  1. Pertama, waris Ashabul Furud (Quranic Heirs) akan mendapat bahagian mereka yang ditetapkan oleh Al-Quran.
  2. Kemudian, waris Asabah (Residue Heirs) akan mendapat baki harta yang tinggal setelah waris Ashabul Furud mengambil bahagian mereka.
  3. Waris Asabah Lelaki akan mendapat semua bahagian/harta si mati sekiranya mereka bersendirian(tiada waris lain).


Peraturan Terdinding Daripada Mewarisi:

  1. Taraf pertalian yang hampir menghalang pertalian yang jauh (cth: anak lelaki MENGHALANG anak lelaki kepada anak lelaki)
  2. Orang yang terkemudian terhalang dengan kewujudan orang yang lebih awal (cth: bapa MENGHALANG abang) terdapat pengecualian bagi peraturan ini iaitu Ibu tidak menghalang saudara lelaki dan saudara perempuan.
  3. Pertalian darah penuh menghalang pertalian darah separa (cth: saudara perempuan seibu sebapa MENGHALANG saudara sebapa) terdapat pengecualian bagi peraturan ini iaitu saudara seibu tidak terhalang sama sekali)

Hilang Hak Mewarisi:

  • BERLAINAN AGAMA. Menurut Syari’ah orang bukan Islam tidak boleh mewarisi daripada orang Islam.
  • Sekiranya seseorang itu MENYEBABKAN KEMATIAN SI MATI samada secara sengaja atau tidak sengaja. Dia juga tidak boleh mewarisi harta si mati.

Harta Yang Dikira Sebagai Harta Pusaka:

  • Semua barang atau benda yang ditinggalkan oleh si mati, yang diperolehi semasa hayatnya secara halal melalui proses jualbeli, pusaka, hibah, wasiat, hadiah, atau sedekah dan sebagainya.
  • Sewa yang masih belum dijelaskan kepada simati.
  • Hutang kepada si mati yang dijelaskan selepas kematiannya.
  • Dividen/faedah yang diterbitkan daripada harta simati.
  • KWSP atau EPF
  • Pencen yang belum sempat ditunaikan oleh simati semasa hayatnya.
  • Barang yang terbit selepas mati seseorang dari usaha si mati semasa hayatnya seperti perniagaan, saham, insurans takaful, hartanah dan lain-lain lagi.

Harta Yang TIDAK Dikira Sebagai Harta Pusaka:

  • Harta yang telah diberikan si mati kepada seseorang semasa hayatnya (hibah).
  • Harta yang telah dijual oleh simati.
  • Harta yang telah diwakafkan.
  • Harta yang dipegang amanah.
  • Khairat kematian.
  • Pemberian oleh orang-orang yang menziarahi kematian.
  • Faedah kematian/Amaun tambahan KWSP.
  • Imbuhan, pampasan dan saguhati.
  • Pencen terbitan.
  • Bayaran-bayaran di bawah Akta Keselamatan Sosial Pekerja 1969.

“Faraid Kan Ada, Apa Gunanya Buat Wasiat?” Fahamkan Dulu 5 Perkara Ini

“Ish, tak payahlah nak sebut-sebut pasal wasiat ni. Aku muda lagi. Lagipun, bukannya aku ni banyak harta. Kalau mati esok pandai-pandailah, hukum faraid kan ada.”

Jika faraid ada, kenapa selalu sangat kita dengar drama pergaduhan di kalangan ahli keluarga yang meninggal dunia?

Persepsi ramai wasiat hanya perlu dibuat apabila kita berada di hujung usia atau diambang kematian. Ada yang hanya mula buat wasiat bila mereka nak pergi menunaikan haji. Menurut Majlis Agama Islam Selangor (MAIS), 90% umat Islam tidak membuat wasiat kerana tidak tahu kepentingan wasiat dan sikap suka menangguh-nangguhkan urusan berkaitan harta pusaka yang bakal ditinggalkan.

Hakikatnya, semua umat Islam yang berusia 18 tahun ke atas, sempurna akal, sukarela, tidak dihalang mengurus hartanya, waras fikiran, baik ingatan dan memahami wasiat dibuat adalah digalakkan untuk meninggalkan sebarang bentuk wasiat bertulis atau yang boleh disahkan.
Berikut adalah sebab-sebab digalakkan berwasiat.

1. Faraid Adalah Kaedah Pengagihan, Bukan Pentadbiran

Pertama sekali, perlu diingat bahawa faraid hanyalah kaedah pengagihan harta, di mana ia hanya boleh bermula setelah segala proses pentadbiran selesai.

Jika arwah tidak membuat apa-apa dokumetasi untuk lantikan Wasi (pemegang amanah), maka waris-waris perlu bersepakat untuk melantik salah seorang daripada mereka. Hal ini bukanlah semudah yang disangka. Sekalipun tidak wujud sebarang pertelingkahan di kalangan ahli keluarga, ia mungkin melibatkan kos guaman tertentu yang boleh menelan belanja ribuan ringgit, terutamanya jika harta tersebut tinggi nilainya.

Maka, proses pentadbiran inilah yang selalunya mengambil masa kerana ia agak rumit. Malah, ia boleh menjadi lebih rumit sekiranya tiada pengalaman, pengetahuan, dan kerjasama di kalangan pewaris.

2. Melunaskan Hutang & Tanggungjawab Syarie

“Macam mana pula kalau saya ada hutang?
Banyak mana pun kita berhutang, masukkan semua maklumat itu dalam wasiat. Hutang dengan bank ada hitam putihnya, tetapi hutang sesama kawan atau ahli keluarga mungkin lebih sulit untuk diuruskan sekiranya tidak ditinggalkan wasiat. Walaupun berapa pun jumlah hutang, hukum bagi menjelaskan hutang tersebut tetap tidak berubah dan WAJIB dibayar. Siapa pemberi hutang dan jumlah hutang perlulah dijelaskan kepada pewaris.

Menurut JAWHAR, sungguhpun hukum berwasiat adalah bergantung kepada keadaan, namun ia boleh menjadi wajib apabila melibatkan hutang atau wadiah sekiranya pemilik sebenar tidak dikenali oleh orang lain.

Selain itu, seseorang juga perlu berwasiat jika terdapat tanggungjawab syarie yang masih belum dilaksanakan seperti zakat dan haji, di mana dia bimbang harta berkenaan habis jika tidak diwasiatkan.

3. Menjamin Kebajikan Keluarga

Pentingnya melantik Wasi (pemegang amanah) melalui wasiat adalah supaya mereka dapat bertindak sebagai seseorang yang boleh dipercayai dalam menguruskan dan mempercepatkan proses tuntutan harta pusaka. Mereka inilah yang akan menjalankan tugas bagi pihak kita apabila kita sudah tiada nanti.

Sebagai contoh wasi inilah yang akan ke bank-bank untuk tutup akaun dan keluarkan wang dari akaun tersebut.

Selain itu, perkara-perkara lain juga boleh dinyatakan di dalam dokumen wasiat seperti cara pembahagian harta pusaka, perlantikan penjaga sah anak di bawah umur 18 tahun, peruntukan perbelanjaan sara hidup dan pendidikan anak. Malah, bagaimana cara sesuatu perniagaan akan diwariskan juga boleh dinyatakan di dalam dokumen wasiat.

4. Mempercepatkan Urusan

Menurut sumber, secara purata, seseorang telah mempunyai dokumen wasiat akan melalui proses pentadbiran pusaka yang lebih lancar dan hanya akan mengambil masa di antara 6 bulan hingga 1 tahun sahaja. Sebaliknya, ia akan memakan masa antara 3 hingga 5 tahun atau lebih daripada itu jika tidak diwasiatkan.

Bayangkan nasib ahli keluarga yang ditinggalkan seperti isteri tidak bekerja, anak-anak yang masih belum cukup umur atau ibu bapa uzur dan tua. Jika ia tidak dikendalikan oleh pihak yang jujur, mungkin akan berlaku unsur penganiayaan terhadap mereka.

5. Dapat Melakukan Amal Jariah

Amal jariah adalah salah satu daripada perkara yang dapat memberi pahala berterusan sekalipun setelah kita meninggal dunia.

Menurut hukum Islam, seseorang boleh menyalurkan tidak lebih daripada 1/3 daripada hartanya untuk tujuan wakaf, membantu orang miskin, anak angkat, atau apa saja tujuan kebajikan. Hukumnya sunat jika diberikan kepada orang yang memerlukan, manakala harus jika ia diberikan kepada sahabat handai atau orang kaya yang bukan dari golongan berilmu dan beramal soleh.

Wasiat Bukanlah ‘Pengganti’ Faraid
Benar, faraid itu ada dan ianya digunapakai semasa proses mengagihkan harta pusaka. Namun, penyediaan dokumen berkaitan wasiat, hibah, amanah dan wakaf bukanlah perkara mudah yang boleh disediakan oleh sesiapa sahaja. Di Malaysia, terdapat beberapa institusi amanah yang berdaftar seperti Majlis Agama Negeri, Baitulmal, peguam-peguam, atau ejen amanah yang diiktiraf dan mahir dalam bidang ini untuk menyempurnakannya.

Maka, jika dilihat secara menyeluruh, berwasiat ini bukanlah semata-mata untuk kepentingan ahli waris saja tetapi sebenarnya manfaatnya adalah lebih untuk diri sendiri.
Jadi, jangan bertangguh lagi. Kita senang waris pun tak pening.

PERBEZAAN WASIAT, FARAID DAN HIBAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم 
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang)

Berikutan kes pecah amanah makan harta anak yatim yang melibatkan dua orang kanak-kanak yatim piatu mangsa kemalangan DUKE tahun lepas... mula orang fikirkan sesuatu supaya anak-anak sendiri tak alami nasib yang sama. Terfikir juga bab ni... risaukan harta kita jatuh ke tangan orang lain... takut harta tak diuruskan dengan sebaiknya.. kadang sebab harta tak seberapa.. adik beradik boleh jadi musuh... boleh kelabu mata kata orang... Jadi, ada yang cadang nak buat hibah... ada yang kata wasiat dan ada juga cadangkan buat faraid... Jadi yang mana satu??? Sebelum nak jelaskan dengan lebih.. kena faham konsep asas hibah. wasiat dan faraid. 

WASIAT

Wasiat ialah suatu hasrat atau keinginan yang dizahirkan secara lisan atau bertulis oleh seseorang mengenai hartanya untuk diuruskan selepas berlaku kematiannya. Tetapi wasiat yang dibuat secara lisan adalah terdedah kepada fitnah akibat arahan yang tidak jelas dan boleh dipertikaikan di kalangan ahli waris. 
Wasiat Kepada Waris dan Bukan Waris
Pada asasnya wasiat hanya diberikan kepada bukan waris kerana tujuannya adalah untuk mendekatkan diri dengan Allah dan mengharapkan pahala. Ia juga diharap dapat memenuhi segala kekurangan yang ada ketika hayat.
Apa yang dimaksudkan dengan waris dalam konteks wasiat ialah orang-orang yang berhak mendapat pusaka selepas pemilik harta meninggal kelak seperti anak atau isteri. Oleh kerana itu wasiat pada asasnya diberikan kepada bukan waris kerana mereka ini tidak termasuk dalam kalangan orang yang berhak untuk mendapat pusaka.
Nabi SAW bersabda yang maksudnya berbunyi;
“Allah telah berikan bahagian kepada setiap orang yang berhak. Maka tiada wasiat untuk waris.”
Bagaimanapun, wasiat kepada ahli waris masih boleh dilaksanakan sekiranya mendapat persetujuan dari ahli waris yang lain. Perlu diingat, ahli waris yang dimaksudkan mestilah ahli waris semasa kematian pewasiat dan bukan ahli waris semasa hayat pewasiat. Jika kesemua ahli waris bersetuju dengan wasiat yang dibuat maka perlaksanaan wasiat tersebut boleh dilaksanakan.
Wasiat Wajibah
Pelaksanaan Wasiat Wajibah menunjukkan Islam amat menitikberatkan kebajikan dan kesempurnaan hidup umatnya, terutama anak-anak yang kehilangan ahli keluarga mereka.
Dalam perkara ini, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-83 yang bersidang pada 22 - 24 Oktober 2008 telah membincangkan mengenai Hukum Pelaksanaan Wasiat Wajibah. Muzakarah berpandangan dalam melaksanakan Wasiat Wajibah adalah harus mengambil pandangan yang menyatakan bahawa berwasiat kepada ahli-ahli waris (seperti cucu) yang tidak mendapat pusaka disebabkan halangan-halangan tertentu adalah merupakan suatu kewajipan yang perlu dilaksanakan.
Wasiat Wajibah ialah seorang anak yang bapa atau ibunya mati terlebih dahulu daripada datuk atau neneknya, anak tersebut iaitu cucu berhak untuk menerima Wasiat Wajibah dengan mengambil bahagian faraid bapa atau ibunya pada kadar tidak melebihi 1/3 daripada harta pusaka datuk atau nenek. Sekiranya bahagian ibu atau bapa adalah 1/3 atau kurang daripada 1/3, maka pembahagian tersebut hendaklah dilaksanakan pada kadar tersebut. Sekiranya bahagian tersebut melebihi 1/3 maka hendaklah dikurangkan pada kadar tidak melebihi 1/3.
 Pelaksanaan Wasiat Wajibah adalah tertakluk kepada syarat-syarat seperti berikut:
1. Anak lelaki dan perempuan daripada anak lelaki dan anak perempuan (cucu) ke bawah adalah layak untuk menerima Wasiat Wajibah.
2. Hendaklah kedua ibu atau bapa mereka meninggal dunia terlebih dahulu daripada datuk atau nenek atau ibu atau bapa meninggal dunia serentak dengan datuk atau nenek dalam kejadian yang sama atau berlainan.
3. Cucu lelaki dan perempuan bukan merupakan waris kepada harta pusaka datuk. Sekiranya mereka merupakan waris ke atas harta pusaka secara fardu atau ta’sib maka mereka tidak layak untuk mendapat Wasiat Wajibah walaupun bahagiannya sedikit berbanding Wasiat Wajibah.
4. Sekiranya anak lelaki atau anak perempuan berlainan agama dengan ibu atau bapa atau terlibat dengan pembunuhan ibu atau bapa, maka dia tidak berhak untuk mendapat Wasiat Wajibah daripada harta pusaka datuk.
5. Sekiranya datuk atau nenek telah memberikan harta kepada cucu melalui hibah, wakaf, wasiat dan sebagainya dengan kadar yang sepatutnya diterima oleh anak lelaki atau anak perempuan mereka sekiranya mereka masih hidup, cucu tidak lagi berhak untuk mendapat Wasiat Wajibah. Sekiranya pemberian tersebut adalah kurang daripada hak yang sepatutnya diterima oleh cucu daripada bahagian anak lelaki atau anak perempuan. Maka hendaklah disempurnakan bahagian tersebut.
6. Anak akan mengambil bahagian faraid bapa atau ibu yang meninggal dunia terlebih dahulu daripada datuk atau nenek dan kadar tersebut hendaklah tidak melebihi kadar 1/3 daripada nilai harta pusaka. Sekiranya bahagian tersebut adalah 1/3 atau kurang daripada 1/3, maka pembahagian tersebut hendaklah dilaksanakan pada kadar tersebut. Sekiranya bahagian tersebut melebihi 1/3 maka hendaklah dikurangkan pada kadar 1/3 melainkan setelah mendapat persetujuan ahli-ahli waris yang lain.
7. Pembahagian Wasiat Wajibah boleh dilaksanakan setelah didahulukan urusan berkaitan mayat, wasiat ikhtiyariyyah dan hutang piutang.
8. Pembahagian Wasiat Wajibah kepada cucu-cucu yang berhak adalah berdasarkan kepada prinsip faraid iaitu seorang lelaki menerima bahagian 2 orang perempuan.

FARAID

Faraid dari segi bahasa bermaksud ketetapan.
Menurut istilah syarak pembahagian harta pusaka selepas kematian seseorang Islam yang telah ditetapkan di bawah hukum Syarak ke atas waris-waris yang sah atau layak (seperti anak, suami, isteri, ibu, bapa dan lain-lain). Harta yang dibahagikan kepada ahli waris adalah baki harta yang ditinggalkan setelah ditolak segala pembiayaan pengurusan jenazah, hutang-hutang pewaris sama ada berbentuk agama (seperti zakat, nazar dan lain-lain) atau hutang kepada manusia dan menunaikan wasiat yang dibenarkan oleh syarak.
Ada tiga golongan ahli waris yang melayakkan mereka menerima harta pusaka, pertama, melalui hubungan keturunan, perkahwinan dan juga wala’ (hubungan kekeluargaan). Isteri termasuk dalam golongan waris yang layak menerima pusaka melalui hubungan perkahwinan

HIBAH

Hibah ialah anugerah, pemberian atau hadiah yang melibatkan suatu akad yang mengandungi pemberiaan hak milik oleh pemberi harta kepada seseorang secara rela hati semasa hayatnya atas dasar kasih sayang dan kemanusiaan tanpa mengharapkan balasan atau tukaran.
Pemberi hibbah tidak boleh menarik balik hibahnya setelah setiap rukun hibbah dipenuhi iaitu : pemberi hibbah (al-wahib), penerima hibbah (al-mauhub laku). Barang  dihibahkan  (al-manhub) lafaz ijab kabul, menurut mazhab syafie akad nikah tidak sempurna kecuali selepas qabul . qabul berbeza-beza mengikut harta / aset. Sekiranya harta alih. Maka qabul berlaku dengan mengambil, memindah, mengasingkan harta tersebut dengan harta lain. Bagi harta tidak alih boleh berlaku dengan mengosongkan harta, menguasainya dan melakukan tasaruf terhadap harta tersebut seperti menyerahkan kunci dan seumpamanya.
Harta atau barang yang dihibahkan mestilah:
1. Sesuatu yang bernilai pada pandangan syarak pada waktu hibah dibuat, 
2. Milik sah orang yang memberi hibah dan 
3. Hendaklah jenis yang boleh diserahkan pada waktu itu.
Contohnya, ayah menghibahkan sebidang tanah kepada anaknya. Tanah adalah jenis harta yang bernilai daripada sudut pandangan syarak. Namun begitu, tanah itu hendaklah bebas daripada sebarang gadaian dengan pihak bank.
Jika mempunyai sekatan gadaian, tanah itu tidak mencukupi syarat sebagai harta yang boleh dihibahkan. Ia belum menjadi milik sah orang yang memberi hibah dan juga tidak boleh diserahkan pada waktu itu kerana sekatan gadaian menghalang serahan atau pindah milik dibuat.
Dalam Islam, barang yang masih bercagar (seperti rumah) boleh dihibahkan jika mendapat keizinan daripada penggadai atau peminjam.
Pemberi hibah mestilah bebas menguruskan harta tersebut tanpa sebarang sekatan. Pindah milik rumah melalui perjanjian hibah tidak boleh dilakukan sekiranya rumah terbabit dijadikan cagaran dan dikaveatkan melainkan cagaran itu ditamatkan dan kaveat ke atas rumah itu ditarik balik.

3 SALAH FAHAM TENTANG PUSAKA

Fahami dan pelajar hibah, wasiat, dan faraid untuk memudahkan proses pusaka anda

Di sini salah faham yang sering berlaku di kalangan umat islam di Malaysia

PERTAMA: TULIS WASIAT UNTUK AGIH HARTA KEPADA ANAK

Rata rata apabila ditanya kepada ibu bapa sekarang, bagaimana nak agihkan harta kepada anak mereka?

Jawapannya yang diberi ialah wasiat. Sebenarnya bukan. Ini salah faham biasa yang ada di masyarakat Melayu, barangkali kerana terpengaruh dengan drama TV atau melihat 3 Abdul berulang kali.

Untuk pengetahuan

TIADA WASIAT UNTUK WARIS


Ya. Jika anda seorang ibu bapa, ada buat wasiat untuk beri sama rata kepada anak, atau anda tiada anak lelaki. Jadi anda buat wasiat supaya anda dapat bagi sama rata kepada anak, atau beri semua harta kepada anak perempuan anda

Wasiat anda tidak sah dari segi syarak.

Dari segi syarak


Wasiat tidak boleh diberikan kepada waris berdasarkan hadis ini

Daripada Abi Umamah berkata, “Aku telah mendengar Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kepada orang yang berhak haknya, ketahuilah tiada wasiat kepada ahli waris” (Hadits Riwayat Abu Daud)

Situasi 1
Ali ada 2 anak lelaki, 2 orang anak perempuan. Ali ingin mengagihkan sama rata kepada anak lelaki dan anak perempuan. Kerana kasih sayangnya yang tidak berbelah bahagi.

Oleh itu, Ali pun membuat wasiat dengan syarikat A dan juga peguam A. Ali menulis semua pesanan dalam wasiat itu bagaimana anak anaknya agihkan hartanya supaya adil

Apabila meninggal, anak semua berkumpul untuk bincang agihan harta pusaka.

2 orang anak perempuannya bersetuju ikut wasiat, 2 orang anak lelaki pula tidak bersetuju dengan wasiat dibuat oleh arwah Ayah, sebab dia rasa rugi. Lelaki dapat 2 bahagian, kenapa perlu ikut wasiat untuk agih sama rata.

Akhirnya, pergagihan mengikut faraid kerana ada 2 waris tidak bersetuju. Di sini adik beradik sudah bermasam muka kerana anak perempuan terasa dengan perlakuan anak lelaki yang nampak sangat mengejar harta ayahnya dan tidak dengar pesanan ayahnya.

Kesudahan, adik beradik bergaduh kerana tidak puas hati dek kerana pusaka arwah ayah. Harta pusaka menjadi puaka

Sekarang

Apa fungsi wasiat ini?

KEDUA: APA FUNGSI WASIAT SEBENARNYA?


Fungsi wasiat ialah 2

1.Melantik Wasi/ Pentadbir/ Pemegang Amanah


Tugas wasi ialah menjalankan proses pusaka arwah dengan amanah.

Tugasnya amat berat dan banyak perlu dibuat tanpa mengharapkan sebarang balasan. Namun besar pahala mereka yang menjadi wasi ini kerana membantu arwah mengagihkan harta pusakanya. Peranan Wasi amat penting di Mahkamah Tinggi kerana jika tiada pelantikan wasi oleh arwah. Kes tidak diteruskan selagi tidak jumpa 2 orang penjamin

Situasi 2
Ali tidak melantik wasi. Tiba tiba beliau terkena serangan jantung. Arwah meninggalkan harta dalam nilaian 4 juta.

Oleh itu, waris yang ingin menuntut harta perlu mencari 2 orang yang sama harta 4 juta sebelum membuat proses Probate.

Disebabkan anak anak Ali tidak tahu mencari siapa. Akhirnya harta arwah sudah setahun tidak dapat dicairkan

Akhirnya harta umat islam tidak dimanfaatkan kerana proses yang sukar serta kos yang tinggi di mahkamah Tinggi

2,Wasiat 1/3 untuk amal jariah
 

Kita masih boleh mendapatkan saham akhirat kita walaupun kita sudah meninggal dunia.
Bagaimana?

Wasiatkan 1/3 dari harta pusaka anda untuk disedekahkan.

Di sini tidak perlu persetujuan waris kerana ini sememangnya hak arwah untuk bersedekah
Waris wajib ikut. Yang boleh tidak diikut oleh waris jika wasiat yang anda buat melebihi 1/3 harta anda.

Haa jangan pening ya
Wasiat wajib ikut – 1/3 amal jariah
Wasiat tidak wajib dikut-wasiat yang lebih 1/3 untuk beri ke waris

Dalil yang membenarkan wasiat 1/3 ini dibuat ialah perbualan ayah Saad Bin Abi Waqqas dengan Rasulullah saw

Daripada Saad bin Abi Waqas r.a, daripada bapanya dia berkata, Aku telah sakit yang teruk ketika di Mekah. Kemudian aku sembuh dari sakit yang boleh membawa mati. Maka Rasulullah saw sentiasa datang melawatku, kemudian aku bertanya Rasulullah saw, ‘ Wahai Rasulullah! Aku mempunyai harta yang banyak dan tidak ada yang akan mewarisiku melainkan seorang anak perempuan. Apakah boleh aku sedekahkan dua pertiga (2/3) daripada hartaku?’ Jawab Rasulullah saw, ‘Tidak!’. Aku berkata; Bagaimana kalau separuh (1/2)? Jawab Rasulullah saw, ‘Tidak!’ Aku berkata, ‘Kalau satu pertiga (1/3)? Jawab Rasulullah saw, ‘Satu pertiga (1/3) itu sudah banyak. Sesungguhnya adalah lebih baik kamu meninggalkan anakmu kaya dari meninggalkan mereka miskin, meminta-minta daripada orang lain. Sesungguhnya apa yang kamu belanjakan akan diberi pahala walaupun sesuap makanan kepada isterimu’. “

Di sinilah yang membenarkan anda boleh membuat wasiat 1/3 untuk amal jariah anda di akhirat nanti

Jadi, jika saya nak agihkan harta kepada anak saya, apa yang perlu saya buat?


KETIGA CARA PERGAGIHAN MELALUI HIBAH


Jika anda jatuh dalam kategori di bawah

  • Pasangan suami Isteri yang membeli rumah secara bersama ( 2 nama SNP/Joint Loan)
  • Pasangan yang mempunyai anak perempuan sahaja
  • Pasangan yang mempunyai anak angkat
  • Pasangan yang berkahwin tetapi belum dikurniakan cahaya mata selepas sekian lama
  • golongan yang berpoligami
  • Pasangan yang masih mempunyai ibu dah ayah
  • Golongan yang sekian lama membujang
  • Golongan yang mempunyai anak lelaki dan perempuan
  • Pasangan yang mempunyai anak OKU
  • Individu yang berkahwin semula selepas kematian pasangan
  • Individu yang akan menunaikan ibadah Umrah dan Haji
  • Ahli perniagaan

Anda perlu merancang dari sekarang.
Kenapa?
Dalam post seterusnya saya akan terangkan satu persatu kenapa golongan di atas ini kritikal

Dengan membuat hibah bersyarat, anda boleh menghibahkan kepada anak anak secara sama rata, hibahkan kepada anak perempuan anda, dan hibahkan harta kepada suami/isteri anda

Kelebihannya hibah ialah ianya telah terkeluar dari pusaka. Maksudnya tidak akan dikira dalam faraid.
Dan waris wajib ikut apa yang diperintahkan hibah oleh Ali

Situasi 3

Ali sangat sayang kepada anak perempuan dan isteri, Beliau juga tahu mereka akan dapat bahagian paling sedikit, selebihnya akan dapat kepada adik beradik lelakinya

Oleh itu, beliau pun hibahkan rumah, duit akaun Tabung Haji, tanah di kampong, kepada isteri dan anaknya

Apabila Ali meninggal, rumah dan juga duit akaun Tabung Haji akan menjadi 100% milik isteri dan anaknya.

Adik beradiknya lelaki Ali tidak boleh menuntut kerana itu bukan harta pusaka, ianya telah terkeluar kerana Ali sudah hibahkan kepada isteri dan anaknya waktu Ali hidup

Sekarang, nampak perbezaan fungsi hibah dan wasiat?

Setiap instrumen ada kepentingan dan kegunaannya. Jika ada kawan kawan yang membuat wasiat, terangkan mereka perkara ini.

Saya jumpa ramai waktu beri slot penerangan di sekolah, dan di rumah

Wasiat bukan untuk waris. Jika buat kepada waris sekalipun, waris ada hak untuk mengikutinya atau tidak .Jika ingin agihkan harta pusaka


Buatlah hibah. Rancang harta pusaka anda sekarang